Sate Klathak Pak Bari: Ikon Kuliner Imogiri Favorit yang Selalu Antre

Sate Klathak Pak Bari adalah tempat makan yang wajib dikunjungi bagi pecinta kuliner di Bantul, Yogyakarta. Kelezatan sate klathak yang dihasilkan oleh Pak Bari tidak diragukan lagi. Dengan bahan baku berkualitas, proses pengolahan yang teliti, dan keunikan penyajian dengan tusuk jeruji, sate klathak Pak Bari mampu memberikan pengalaman kuliner yang tak terlupakan.

Lokasi yang mudah dijangkau, suasana yang nyaman, dan fasilitas yang memadai juga menjadi nilai tambah dari tempat makan ini. Tidak heran jika sate klathak Pak Bari mendapatkan banyak ulasan positif dari pengunjung dan penghargaan dari berbagai instansi.

Jadi, jika Anda berada di Bantul, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi sate klathak Pak Bari. Rasakan sendiri kelezatan dan keunikan sate klathak yang telah memikat banyak lidah. Sate klathak Pak Bari, tempat makan yang menggugah selera di Bantul, Yogyakarta. Berikut ulasan lengkap dari Explore Jogja.

Sejarah Panjang Sate Klathak dan Perjalanan Pak Bari

Sejarah Panjang Sate Klathak dan Perjalanan Pak Bari

Sate klathak merupakan salah satu kuliner khas Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang memiliki karakter berbeda dibandingkan sate kambing pada umumnya. Jika sate kambing identik dengan tusuk bambu dan baluran bumbu kacang atau kecap, sate klathak tampil minimalis dengan bumbu sederhana serta penggunaan tusuk jeruji besi. Di antara banyak penjual sate klathak di wilayah Imogiri, nama Sate Klathak Pak Bari menjadi salah satu yang paling dikenal luas, baik oleh warga lokal maupun wisatawan.

Sejarah sate klathak memang tidak tercatat secara tertulis dengan detail akademis. Namun masyarakat sekitar meyakini bahwa tradisi ini telah ada sejak lama di kawasan Imogiri dan Pleret. Awalnya, sate klathak berkembang dari kebiasaan pedagang sate kambing tradisional yang memanfaatkan bahan dan alat sederhana yang tersedia di lingkungan mereka.

Usaha yang kini dikenal sebagai Sate Klathak Pak Bari memiliki garis keturunan panjang. Berdasarkan penuturan keluarga, usaha ini bermula dari Mbah Ambyah yang telah berjualan sate sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. Generasi berikutnya dilanjutkan oleh Pak Wakidi, hingga akhirnya dikelola oleh Pak Bari sejak tahun 1992. Di tangan Pak Bari, usaha ini berkembang pesat dan semakin dikenal luas.

Sate Klathak Pak Bari: Ikon Kuliner Imogiri yang Rela Bikin Pengunjung Antre

Nama “klathak” sendiri memiliki beberapa versi cerita. Ada yang menyebutkan bahwa istilah tersebut berasal dari bunyi “klathak-klathak” ketika daging kambing yang ditusuk jeruji besi dipanggang di atas bara api. Versi lain menyebutkan bahwa kata klathak merujuk pada biji melinjo yang dulu pernah ditempelkan pada daging saat proses pemanggangan. Di wilayah Imogiri, biji melinjo memang kerap disebut “klathak”. Terlepas dari asal-usul pasti namanya, istilah ini kini telah menjadi identitas kuliner khas Bantul.

Lokasi berjualan yang dipilih Pak Bari, yakni di Pasar Jejeran Wonokromo, Jalan Imogiri Timur, Pleret, Bantul, juga memiliki nilai historis. Dahulu, Mbah Ambyah berjualan di bawah pohon waru sebelum kawasan tersebut berkembang menjadi los pasar permanen. Meski sempat berpindah ruko, usaha ini akhirnya kembali ke kawasan pasar yang memiliki akar sejarah panjang dengan sate klathak.

Reputasi Sate Klathak Pak Bari semakin meluas ketika muncul dalam film populer “Ada Apa dengan Cinta? 2” (2016), di mana tokoh Rangga dan Cinta digambarkan menikmati hidangan ini. Sejak saat itu, banyak wisatawan menjadikannya destinasi kuliner wajib ketika berkunjung ke Yogyakarta.

Keunikan Sate Klathak dengan Tusuk Jeruji Besi

Keunikan Sate Klathak dengan Tusuk Jeruji Besi

Salah satu ciri paling menonjol dari sate klathak adalah penggunaan tusuk jeruji besi, yang umumnya merupakan jeruji sepeda yang telah dibersihkan dan disterilkan. Berbeda dengan tusuk sate bambu yang umum digunakan di berbagai daerah, jeruji besi memiliki kemampuan menghantarkan panas lebih baik. Panas dari bara api dapat merata ke bagian dalam daging, sehingga tingkat kematangan lebih konsisten.

Penggunaan jeruji besi bukan sekadar gimmick visual. Secara teknis, logam memiliki konduktivitas panas lebih tinggi dibanding bambu. Hal ini memungkinkan daging kambing matang dari luar dan dalam secara bersamaan. Hasilnya adalah tekstur yang lebih empuk tanpa bagian tengah yang masih mentah.

Keunikan lain terletak pada bumbu yang sangat minimalis. Sate klathak umumnya hanya dibumbui garam sebelum dipanggang. Tidak ada baluran bumbu kacang atau kecap seperti sate Madura. Kesederhanaan ini justru menonjolkan kualitas daging kambing itu sendiri.

Saat dipanggang di atas bara arang, daging mengeluarkan aroma khas yang menggoda. Percikan lemak yang jatuh ke bara api menghasilkan asap tipis yang memperkaya cita rasa. Dalam satu tusuk jeruji biasanya terdapat beberapa potongan daging berukuran cukup besar.

Proses pemanggangan dilakukan perlahan dengan pengawasan ketat agar tidak gosong. Sate biasanya disajikan bersama nasi putih, kuah gulai kambing, serta sambal pelengkap.

Keunikan teknik dan penyajian inilah yang membuat sate klathak berbeda dari sate kambing lain di Indonesia. Dari sisi visual, jeruji besi yang panjang menciptakan tampilan yang langsung dikenali dan sering menjadi objek foto wisatawan.

Rasa, Harga, dan Komposisi Menu

Rasa, Harga, dan Komposisi Menu Sate Klathak Pak Bari.

Cita rasa sate klathak Pak Bari didominasi rasa asin-gurih alami dari daging kambing yang dipanggang sempurna. Karena hanya menggunakan garam sebagai bumbu utama, kualitas daging menjadi faktor penentu. Pak Bari dikenal selektif dalam memilih daging kambing segar, menghindari daging yang berbau prengus tajam.

Tekstur daging yang empuk menjadi nilai jual utama. Potongan cukup tebal namun tetap mudah dikunyah. Kuah gulai yang disajikan terpisah memberikan dimensi rasa tambahan, dengan cita rasa santan dan rempah yang kaya.

Harga seporsi sate klathak relatif terjangkau. Berdasarkan informasi terbaru, kisaran harga seporsi berkisar antara Rp20.000–Rp30.000 tergantung paket dan jumlah tusuk, sudah termasuk nasi dan kuah gulai. Harga ini tergolong wajar untuk porsi makan satu orang.

Selain sate klathak, tersedia pula menu lain seperti tongseng kambing, tengkleng, dan gulai jeroan. Menu ini memberikan pilihan bagi pelanggan yang ingin variasi olahan kambing.

Untuk minuman, tersedia teh hangat, es teh, jeruk hangat, dan es jeruk. Salah satu keunikan adalah penggunaan gula batu sebagai pemanis, memberikan rasa berbeda dibanding gula pasir biasa.

Testimoni, Penghargaan, dan Popularitas

Kemunculan dalam film “Ada Apa dengan Cinta? 2” membuat Sate Klathak Pak Bari semakin dikenal secara nasional. Banyak wisatawan datang karena penasaran setelah melihat adegan tersebut.

Berbagai ulasan di media sosial memuji kelezatan daging, keunikan jeruji besi, dan pengalaman makan yang autentik. Beberapa media lokal juga memberikan penghargaan sebagai salah satu sate klathak terbaik di Yogyakarta.

Popularitas ini turut mendongkrak jumlah pengunjung yang rela antre demi mencicipi cita rasa khas Imogiri.

Kemunculan dalam film “Ada Apa dengan Cinta? 2” membuat Sate Klathak Pak Bari semakin dikenal secara nasional.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan:

  • Ikon kuliner legendaris Bantul
  • Teknik unik tusuk jeruji besi
  • Rasa gurih alami tanpa bumbu berlebihan
  • Harga relatif terjangkau
  • Lokasi mudah dijangkau

Kekurangan:

  • Antrean panjang saat ramai
  • Tempat sederhana dan bisa panas
  • Aroma asap cukup kuat

Mengapa Wajib Mencoba Sate Klathak Pak Bari

Mengapa Wajib Mencoba Sate Klathak Pak Bari

Sate Klathak Pak Bari bukan sekadar tempat makan, tetapi bagian dari identitas kuliner Bantul. Perpaduan sejarah panjang, teknik unik, dan rasa autentik menjadikannya destinasi wajib bagi pecinta sate kambing.

Dengan harga yang masih terjangkau dan pengalaman makan yang khas, tidak mengherankan jika banyak pengunjung rela antre. Jika Anda berkunjung ke Bantul atau Yogyakarta, sempatkanlah menikmati sate klathak di Pasar Jejeran. Pengalaman ini bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang warisan kuliner yang bertahan lintas generasi.

Suasana, Lokasi, dan Jam Operasional

Sate Klathak Pak Bari berlokasi di Pasar Jejeran Wonokromo, Jalan Imogiri Timur, Pleret, Bantul. Lokasi ini sekitar 20–30 menit berkendara dari pusat Kota Yogyakarta.

Suasana tempat makan cukup sederhana, dengan meja dan kursi kayu yang tertata di area pasar. Nuansa tradisional terasa kuat karena berada di lingkungan pasar rakyat.

Fasilitas parkir tersedia dan relatif memadai, meski pada akhir pekan bisa cukup padat. Jam operasional biasanya mulai pukul 10.00 hingga 22.00 WIB setiap hari.

Antrean kerap terjadi terutama saat malam hari dan akhir pekan. Waktu tunggu bisa mencapai 30–60 menit pada jam sibuk.

Peta Lokasi

Alamat: Pasar Wonokromo, Ps. Jejeran, Jl. Imogiri Tim. No.5, Wonokromo II, Wonokromo, Kec. Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55791


Explore Jogja Editorial Team

Explore Jogja Editorial Team

Kami adalah tim editorial berbasis di Yogyakarta yang terdiri dari travel content writer berpengalaman dan berdedikasi. Dengan semangat mengeksplorasi budaya, sejarah, dan keindahan alam, kami menyajikan panduan wisata yang mendalam melalui riset, narasi yang kuat, dan visual storytelling. Kami menyoroti destinasi ikonik hingga pengalaman lokal yang autentik, dengan fokus pada akurasi, kearifan lokal, dan keberlanjutan perjalanan.
https://xplorejogja.com