Terletak di kawasan perbukitan hijau nan asri di Sleman, Yogyakarta, Candi Abang merupakan salah satu destinasi wisata sejarah di Jogja yang menyuguhkan kombinasi harmonis antara warisan budaya masa lampau dan pesona alam yang menenangkan. Berbeda dengan kebanyakan candi di Indonesia yang didominasi oleh batu andesit berwarna abu-abu kehitaman, Candi Abang justru tersusun dari batu bata merah, menjadikannya unik dan menarik secara visual maupun historis. Berlokasi di Dusun Candiabang, Kelurahan Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, lokasi candi ini juga strategis karena dekat dengan Bandara Adisutjipto dan beberapa situs sejarah lainnya seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong. Berikut ulasan lengkap dari Explore Jogja.
Daftar Isi
Sejarah dan Latar Belakang Candi Abang

Candi Abang merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno dan diperkirakan dibangun pada abad ke-9 hingga ke-10 Masehi. Meskipun berdiri dalam rentang waktu yang sama dengan candi-candi Hindu lainnya, usia Candi Abang diyakini sedikit lebih muda. Keistimewaan dari candi ini adalah bahan penyusunnya, yakni batu bata merah, yang dalam bahasa Jawa disebut “abang”. Oleh karena itu, nama “Candi Abang” merujuk langsung pada warna material bangunannya yang khas dan mencolok ketika musim kemarau tiba.
Bentuk arsitektural Candi Abang menyerupai piramida dengan denah dasar berbentuk persegi, berukuran sekitar 36 x 34 meter. Situs ini terletak di atas bukit kecil dengan tinggi sekitar 6 meter dan diameter sekitar 40 meter, yang kini tertutupi oleh tanah dan rerumputan. Kondisi inilah yang membuat candi tampak seperti bukit dari kejauhan—mirip dengan lanskap serial anak-anak Teletubbies.
Menurut beberapa catatan penting, seperti yang tercantum dalam karya Ijzerman pada tahun 1891 dalam “Beschrijving der Oudheden nabij de grens de residenties Soerakarta en Djogdjakarta”, Candi Abang terbuat dari batu bata keras. Namun, pada saat itu kondisi candi sudah dalam keadaan runtuh, yang hanya menyisakan puing-puing dan lantai.

Hal serupa juga dicatat dalam laporan “Rapporten Van den Oudheidkundigen Dienst” tahun 1915, yang menyebutkan bahwa candi telah menjadi reruntuhan. Bahkan, NJ Krom dalam tulisannya “Inleiding Tot De Hindoe-Javaansche Kunst” tahun 1920 mengonfirmasi bahwa Candi Abang merupakan bagian dari peninggalan Hindu-Buddha di dataran Saragedug yang memiliki nilai religius tinggi, karena pada masa itu bangunan yang dibangun di atas bukit dipercaya sebagai tempat tinggal dewa-dewi.
Salah satu penemuan penting di sekitar candi adalah sebuah prasasti bertanggal 794 Saka atau 872 Masehi, ditemukan pada tahun 1932. Meski belum menjadi bukti pasti tahun berdirinya candi, prasasti ini memberikan petunjuk tentang aktivitas keagamaan dan sosial pada masa itu. Dalam struktur aslinya, ditemukan pula arca dan alas yoni berbentuk segi delapan, yang berbeda dari kebanyakan alas yoni yang biasanya berbentuk segi empat.
Proses Penemuan Kembali dan Pelestarian
Selama berabad-abad, Candi Abang tersembunyi di bawah lapisan tanah dan tumbuhan, membuat keberadaannya tidak diketahui oleh masyarakat luas. Hingga pada tahun 1970-an, seorang petani yang sedang mengolah lahan pertaniannya menemukan struktur batu bata merah yang mencurigakan. Temuan tersebut kemudian menarik perhatian para arkeolog dan sejarawan untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Sejak saat itu, Candi Abang mulai dikenal kembali oleh masyarakat dan menjadi bagian penting dari pelestarian cagar budaya di Sleman.
Kini, meski sebagian besar bangunan telah menjadi puing, bentuk dasar candi tetap bisa dikenali dan memberikan gambaran tentang kemegahan masa lampau. Pemerintah daerah, melalui Dinas Kebudayaan dan instansi terkait, secara bertahap melakukan upaya konservasi agar situs ini tetap terjaga kelestariannya. Kegiatan edukasi, wisata candi bersejarah, serta pelibatan masyarakat lokal juga dilakukan guna menjadikan Candi Abang sebagai sumber pembelajaran yang hidup dan lestari.
Daya Tarik Wisata Alam dan Budaya di Candi Abang

Bukit Teletubbies: Keindahan Visual yang Menawan
Salah satu hal paling mencolok yang menarik minat pengunjung ke Candi Abang adalah tampilannya yang menyerupai bukit hijau. Bukit ini, yang terbentuk dari struktur candi yang telah ditutupi tanah dan rerumputan, menjadi sangat mirip dengan latar tempat tinggal tokoh-tokoh dalam serial anak-anak “Teletubbies”. Oleh sebab itu, masyarakat dan wisatawan pun menjulukinya sebagai “Bukit Teletubbies”.
Pemandangan di sini sangat bergantung pada musim. Saat musim hujan, seluruh bukit akan tertutupi oleh rerumputan hijau yang subur dan menyejukkan mata. Sementara pada musim kemarau, rerumputan akan menguning atau bahkan mengering, memperlihatkan warna asli batu bata merah dari candi. Pemandangan semacam ini memberikan nuansa dinamis yang berbeda di setiap kunjungan. Tak heran jika tempat ini menjadi spot favorit bagi para fotografer, pemburu konten media sosial, hingga wisatawan yang ingin menikmati ketenangan alam terbuka.
Ekosistem Hutan yang Masih Asri
Selain bukit rumput yang mendominasi lanskap visual, area sekitar Candi Abang juga dikelilingi oleh ekosistem hutan kecil yang masih terjaga kealamiannya. Di kawasan ini, pengunjung dapat menemukan berbagai jenis flora dan fauna lokal. Keberadaan hutan ini memberikan suasana sejuk dan alami yang sangat cocok untuk bersantai, berjalan kaki, atau sekadar menikmati semilir angin pegunungan.
Tidak jarang, pengunjung dapat mendengar suara burung berkicau yang menjadi latar suara alami saat menjelajahi sekitar candi. Keberadaan hutan juga menambah nilai ekowisata, karena selain mengedukasi tentang sejarah dan budaya, wisatawan juga bisa belajar tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Kisah Mistis dan Kepercayaan Lokal
Seperti banyak situs bersejarah lainnya di Indonesia, Candi Abang juga tidak lepas dari kisah-kisah mistis yang berkembang di tengah masyarakat setempat. Salah satu legenda yang cukup dikenal adalah mengenai sosok penjaga gaib bernama Kyai Jagal. Dalam cerita rakyat, Kyai Jagal digambarkan sebagai sosok besar dan berambut panjang yang menjaga kawasan candi ini. Masyarakat setempat percaya bahwa Kyai Jagal adalah penunggu spiritual yang menjaga kesucian dan keseimbangan energi di lokasi tersebut.
Kepercayaan ini menambah daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang tertarik pada wisata spiritual atau budaya lokal. Meski tak semua mempercayainya secara harfiah, kisah ini menjadi bagian dari identitas budaya yang memperkaya nilai Candi Abang sebagai situs warisan leluhur.
Tempat Wisata Sekitar Candi Abang yang Patut Dikunjungi

Candi Prambanan: Keindahan Arsitektur Hindu yang Megah
Tak jauh dari lokasi Candi Abang, terdapat Candi Prambanan yang menjadi salah satu destinasi unggulan di Yogyakarta. Candi Hindu terbesar di Indonesia ini dibangun pada abad ke-9 oleh Wangsa Sanjaya dan telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Candi Prambanan terkenal dengan arsitekturnya yang megah dan relief cerita Ramayana yang terukir dengan indah di dinding-dinding candi.
Berkunjung ke Candi Abang kemudian melanjutkan perjalanan ke Candi Prambanan dapat menjadi rangkaian wisata sejarah yang sempurna. Pengunjung bisa menggali perbedaan dan kesamaan kedua candi ini dalam hal struktur, fungsi religius, serta nilai sejarahnya. Selain itu, di kawasan Prambanan sering diadakan pertunjukan seni seperti Sendratari Ramayana, yang memperkaya pengalaman budaya para wisatawan.
Candi Ratu Boko: Menikmati Matahari Terbenam dari Atas Bukit
Destinasi lainnya yang dapat dikunjungi dalam satu jalur adalah Candi Ratu Boko. Terletak di atas bukit dengan panorama yang memukau, kompleks Ratu Boko menawarkan pengalaman unik yang menggabungkan sejarah, arsitektur, dan keindahan lanskap alam. Lokasi ini sangat terkenal sebagai tempat terbaik untuk menikmati matahari terbenam di Yogyakarta.
Bangunan yang ada di kompleks ini diduga dulunya merupakan keraton atau istana, bukan sekadar tempat ibadah. Dengan menara pengawas, gerbang megah, hingga sumur suci, Candi Ratu Boko memberikan gambaran kompleks kehidupan kerajaan pada masa lampau. Lokasi ini juga sering dijadikan tempat festival budaya dan kegiatan seni lainnya.

Candi Abang sebagai Wisata Sejarah dan Alam yang Menggugah
Candi Abang bukan hanya sekadar situs arkeologi yang menyimpan jejak peradaban Hindu-Buddha di masa lampau, tetapi juga sebuah destinasi wisata yang menyatukan nilai sejarah, keindahan alam, dan kearifan lokal. Bagi para wisatawan yang ingin mendapatkan pengalaman berbeda di Yogyakarta, mengunjungi Candi Abang akan memperkaya perspektif tentang betapa beragam dan uniknya peninggalan budaya di Indonesia.
Dengan harga tiket yang terjangkau, lanskap yang indah, serta cerita sejarah yang menarik, Candi Abang layak dijadikan destinasi utama dalam itinerary wisata sejarah dan alam Anda di Sleman, Jogja. Jangan lupa membawa kamera, mengajak keluarga atau sahabat, dan menikmati perjalanan menyusuri jejak masa lalu yang menyatu dengan pesona alam yang tak lekang oleh waktu.
Informasi Kunjungan: Tiket, Rute, dan Fasilitas Candi Abang Di 2026

Harga Tiket Masuk dan Fasilitas Umum
Untuk memasuki kawasan wisata Candi Abang, pengunjung hanya dikenakan tiket masuk sebesar Rp 5.000 per orang. Harga yang sangat terjangkau ini menjadikan Candi Abang sebagai salah satu destinasi wisata edukatif dan ekonomis di wilayah Sleman. Meskipun masih bersifat semi-alami dan belum dikomersialisasikan secara besar-besaran, kawasan ini sudah memiliki fasilitas dasar seperti area parkir dan beberapa warung warga yang menjual makanan ringan serta minuman.
Pengunjung juga bisa membawa bekal dan melakukan piknik kecil bersama keluarga di sekitar bukit. Namun, demi kenyamanan bersama, penting untuk tetap menjaga kebersihan area dan tidak merusak vegetasi di sekitar situs.
Rute dan Lokasi
Candi Abang berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 30 hingga 40 menit menggunakan kendaraan pribadi. Akses menuju lokasi cukup mudah. Dari Kota Yogyakarta, ambil rute ke arah Jalan Wonosari, lalu arahkan perjalanan menuju Piyungan. Dari pertigaan Piyungan, belok ke arah Prambanan-Piyungan hingga menemukan persimpangan Berbah. Ikuti papan penunjuk arah menuju Candi Abang dan lanjutkan perjalanan hingga menemui bukit kecil yang merupakan area situs candi.
Disarankan untuk menggunakan kendaraan pribadi karena belum tersedia transportasi umum yang langsung menuju lokasi. Selain itu, kondisi jalan menuju candi cukup menanjak, sehingga pastikan kendaraan dalam kondisi baik.
Peta Lokasi
Alamat: Blambangan, Jogotirto, Kec. Berbah, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55573