Candi Sewu bukan hanya sebuah situs arkeologi biasa, tetapi juga representasi penting dari toleransi agama, kemajuan arsitektur kuno, dan kekayaan budaya masa lampau. Kombinasi antara nilai sejarah, keindahan arsitektur, dan lingkungan alam yang mendukung menjadikan Candi Sewu sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Indonesia.
Dengan fasilitas yang terus ditingkatkan dan aksesibilitas yang baik, Candi Sewu layak masuk dalam daftar kunjungan wajib destinasi wisata di Jogja bagi wisatawan yang ingin memahami sejarah dan spiritualitas Jawa. Baik untuk wisata edukatif, spiritual, maupun fotografi, Candi Sewu menyajikan pengalaman wisata yang kaya dan mendalam. Berikut ulasan dari Explore Jogja.
Daftar Isi
Sejarah dan Asal-usul Candi Sewu

Candi Sewu merupakan kompleks candi Buddha terbesar kedua di Indonesia setelah Candi Borobudur. Terletak di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, candi ini berdiri megah sekitar 800 meter di utara Candi Prambanan. Meskipun dikenal dengan sebutan “Sewu” yang berarti seribu dalam bahasa Jawa, kompleks ini sebenarnya hanya terdiri dari 249 bangunan. Penamaan ini berasal dari legenda Roro Jonggrang yang mewarnai tradisi lisan masyarakat sekitar.
Menurut catatan sejarah, Candi Sewu dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno, sekitar abad ke-8 Masehi, menjelang akhir masa pemerintahan Rakai Panangkaran dari Dinasti Sailendra. Bukti arkeologis yang memperkuat hal ini ditemukan dalam dua prasasti penting: Prasasti Kelurak (782 M) dan Prasasti Manjusri-grha (792 M). Prasasti tersebut menyebutkan bahwa nama asli dari kompleks candi ini adalah “Prasada Vajrasana Manjusrigrha”, yang berarti tempat bertakhta Vajra dan rumah bagi Manjusri, seorang Bodhisattwa penting dalam ajaran Buddha Mahayana.
Seiring pergantian kekuasaan, candi ini tetap dirawat dan diperluas oleh penguasa dari Dinasti Sanjaya yang menganut agama Hindu. Hal ini menunjukkan bahwa sejak dahulu, toleransi dan harmonisasi antaragama telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa kuno. Lokasi Candi Sewu yang berdampingan dengan Candi Prambanan yang bercorak Hindu memperkuat fakta ini.
Arsitektur dan Denah Kompleks Candi Sewu

Kompleks Candi Sewu memiliki struktur yang luar biasa megah dan menggambarkan konsep kosmologi Buddha Mahayana dalam bentuk mandala wajradhatu. Komplek ini membentang seluas 185 meter arah utara-selatan dan 165 meter timur-barat. Bangunan utamanya adalah candi induk yang berukuran besar dan dikelilingi oleh 240 candi perwara atau pengawal. Susunan ini membentuk empat deretan persegi konsentris, dimulai dari candi-candi terkecil di bagian luar hingga menuju ke candi induk di bagian tengah.
Pintu masuk utama terletak di sisi timur, ditandai oleh keberadaan dua arca Dwarapala yang berdiri gagah menjaga gerbang. Arca penjaga ini memiliki tinggi sekitar 2,3 meter dan merupakan representasi klasik dari penjaga suci dalam budaya Hindu-Buddha.

Setiap candi perwara memiliki desain hampir serupa, namun terdapat perbedaan pada bentuk gawang pintu dan proporsi bangunannya, tergantung dari posisi deretannya. Candi-candi ini diyakini dahulu diisi oleh arca Dhyani Buddha, yang masing-masing mewakili arah mata angin dalam ajaran kosmologi Buddha.
Selain itu, di antara candi perwara juga terdapat delapan candi penjuru yang berukuran lebih besar dibandingkan candi pengawal lainnya. Sayangnya, tidak semua candi penjuru ini masih utuh karena banyak yang rusak akibat gempa maupun karena faktor usia.
Keunikan Arsitektur Candi Induk
Candi utama dalam kompleks Candi Sewu memiliki denah poligon bersudut dua puluh dengan diameter 29 meter dan tinggi mencapai 30 meter. Bangunan ini berbentuk salib atau silang, dengan lima ruang utama yang menjorok ke empat penjuru mata angin dan satu ruang tengah. Tiap ruang dilengkapi dengan tangga, relung, dan stupa di bagian atasnya. Seluruh bangunan menggunakan batu andesit yang dipahat rapi dengan teknik kuno yang presisi.
Ruang utama candi induk dahulu diduga menyimpan arca Manjusri setinggi 4 meter, yang sayangnya kini telah hilang. Indikasi keberadaan arca ini ditunjukkan oleh landasan berbentuk bunga teratai di tengah ruangan, yang lazim digunakan sebagai tempat duduk arca Buddha atau Bodhisattwa.

Tambahan struktur di sekitar candi utama diyakini merupakan hasil pengembangan dari rencana awal yang hanya mencakup satu ruangan. Dengan adanya bangunan tambahan ini, candi induk tampak lebih megah dan kompleks, mencerminkan pentingnya posisi Candi Sewu dalam kegiatan keagamaan saat itu.
Prasasti dan Temuan Arkeologis Penting
Prasasti Kelurak dan Prasasti Manjusri-grha menjadi dua sumber utama yang menjelaskan latar belakang pembangunan Candi Sewu. Prasasti ini ditemukan dalam kondisi cukup baik dan berisi tulisan dalam aksara Jawa Kuno yang merinci tentang pendirian bangunan suci ini.
Selain prasasti panjang, terdapat pula prasasti-prasasti pendek berupa coretan atau simbol di batu penyusun bangunan candi. Beberapa sapuan cat dengan frasa pendek juga ditemukan di candi utama dan candi perwara, menandakan bahwa tempat ini tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran spiritual.
Peristiwa Gempa 2006 dan Upaya Pemugaran
Pada Mei 2006, kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah diguncang gempa bumi dahsyat yang menyebabkan kerusakan serius pada banyak bangunan bersejarah, termasuk Candi Sewu yang merupakan salah satu destinasi wisata candi di sekitar Jogja. Candi induk mengalami kerusakan paling parah, dengan batuan berserakan, retakan struktural, dan potensi keruntuhan yang tinggi.
Pemerintah melalui Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) segera melakukan upaya darurat dengan memasang kerangka besi di keempat sudut candi induk untuk mencegah keruntuhan lebih lanjut. Setelah bertahun-tahun proses pemugaran dilakukan secara bertahap, kini Candi Sewu telah kembali dibuka untuk umum, bahkan ruangan dalam candi induk sudah dapat dikunjungi kembali oleh wisatawan.

Jam Operasional dan Harga Tiket Masuk
Candi Sewu dibuka setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 17.00 WIB. Harga tiket masuk untuk wisatawan lokal adalah sebesar Rp40.000 untuk dewasa dan Rp20.000 untuk anak-anak. Sementara itu, untuk wisatawan asing dikenakan tarif sebesar USD 25. Tiket ini sudah mencakup kunjungan ke Candi Prambanan dan situs lainnya yang termasuk dalam kawasan Taman Wisata Candi Prambanan.
Bagi pengunjung yang ingin mempelajari sejarah dan budaya Jawa Kuno, harga tiket tersebut sangat sepadan dengan pengalaman yang ditawarkan oleh Candi Sewu.
Tempat Wisata Terdekat yang Bisa Dikunjungi
Keunggulan lain dari berwisata ke Candi Sewu adalah lokasinya yang berada dalam kawasan yang kaya akan peninggalan sejarah. Setelah menikmati keindahan dan ketenangan Candi Sewu, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan ke beberapa tempat wisata lain di sekitarnya, seperti:
1. Candi Prambanan
Kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang menjadi tetangga terdekat Candi Sewu. Memiliki arsitektur megah dan kisah legenda Roro Jonggrang yang melegenda.
2. Candi Plaosan
Candi Plaosan yang bercorak Buddha yang memiliki arsitektur unik dan kerap digunakan sebagai latar foto prewedding. Terletak hanya beberapa kilometer dari Candi Sewu.
3. Candi Ratu Boko
Candi Ratu Boko merupakan kompleks keraton kuno yang berada di atas bukit, menawarkan pemandangan matahari terbenam yang spektakuler.
4. Taman Wisata Candi Ijo
Candi Ijo merupakan candi tertinggi di Yogyakarta yang menyajikan panorama perbukitan dan cityscape Kota Jogja dari ketinggian.
Akses Menuju Lokasi Candi
Candi Sewu dapat dijangkau dengan mudah dari Kota Yogyakarta, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Jalur paling umum adalah melalui Jalan Solo – Prambanan, lalu mengikuti petunjuk arah menuju kawasan Candi Prambanan. Dari gerbang utama Prambanan, pengunjung hanya perlu berjalan kaki atau menaiki shuttle yang disediakan oleh pengelola situs menuju kompleks Candi Sewu yang terletak di bagian utara.
Ketersediaan area parkir yang luas serta fasilitas umum seperti toilet, musala, dan pusat informasi turut menunjang kenyamanan pengunjung.
Alamat dan Peta Lokasi
Alamat: Jl. Raya Solo – Yogyakarta No.KM.16, Bugisan, Kec. Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta